Fenomena Langit di Bulan September, Hari Tanpa Bayangan

smartpower media berita realistis jakarta fenomena alam september 2021

Selama September 2021 akan ada sederet fenomena langit, yang dapat disaksikan di langit Indonesia. Beberapa fenomena itu dapat disaksikan menggunakan mata telanjang, di antaranya hujan meteor Aurigid.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) membeberkan sejumlah fenomenanya, yang dapat disaksikan mulai 1 September. Berikut rangkuman fenomena yang dapat disaksikan di langit Indonesia.

Puncak Hujan Meteor Aurigid

Fenomena puncak hujan meteor Aurigid dapat disaksikan pada 1 September 2021. Aurigid adalah hujan meteor yang titik radiannya ada di arah konstelasi Auriga, yang berdekatan dengan konstelasi Taurus.

Meteor itu terbentuk dari sisa debu komet Kiess (C/1911 N1) yang melintasi ekliptika. Hujan meteor itu sempat teramati empat kali dalam satu abad terakhir, yakni pada 1935, 1986, 1994 dan pada 2007.

Hujan meteor Aurigid pertama kali diamati oleh Cuno Hoffmeister dan A Teichgraeber pada 31 Agustus 1935 malam. LAPAN menjelaskan bahwa sebenarnya hujan meteor itu sudah aktif sejak 28 Agustus, dan akan berakhir pada 5 September mendatang. 

Intensitas meteor maksimum terjadi pada 1 September 2021 pukul 10.00 WIB/ 11. WITA/12.00 WIT. Sehingga dapat disaksikan sejak pukul 01.30 hingga 05.30 waktu setempat, dari arah Timur Laut hingga Utara-Timur Laut.

Intensitas meteor maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 6 meteor per jam. Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 31 – 48 derajat, maka intensitas maksimumnya 3 sampai 4 meteor per jam.

Sedangkan kecepatan diprediksi 237 ribu kilometer per jam.

Meteor ini bisa disaksikan menggunakan mata telanjang selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

Konjungsi Venus-Spica

Spica merupakan bintang utama di konstelasi Virgo. Bintang ini berkonjungsi dengan Venus, puncaknya terjadi pada 6 September 2021 pukul 03.53 WIB/ 04.53 WITA/ 05.53 WIT, dengan sudut pisah antara 1,6 derajat.

Meski begitu, fenomena ini sudah dapat disaksikan pada 5 September 2021 sejak pukul 18.30 hingga 20.30 waktu setempat, dan dapat menyaksikan dari arah, tanpa alat bantu penglihatan.

Lebih lanjut LAPAN menjelaskan bahwa kecerlangan Venus sebesar -4,05 sedangkan Spica bermagnitudo +0,95.

Fase Bulan Baru

Fenomena fase bulan baru juga disebut konjungsi solar Bulan merupakan konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi yang segaris dengan Matahari dan Bumi.

Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1 derajat terharap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru.

Sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari.

Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 7 September pukul 07.51 WIB/08.51 WITA/09.51 WIT, dengan jarak 377.022 kilometer dari Bumi, dan terletak di konstelasi Leo.

Namun sayangnya, fenomena ini hanya dapat disaksikan menggunakan alat bantu penglihatan.

Konjungsi Bulan-Mars

Puncak konjungsi Bulan-Mars terjadi pada 8 September pukul 02.36 WIB/03.36 WITA/04.36 WIT dengan sudut pisah 3,8 derajat.

Sehingga fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak malam sebelumnya, dari arah Barat sekitar 15 menit setelah Matahari terbenam selama 5 menit, dan hanya dapat disaksikan dengan menggunakan alat bantu.

Fenomena itu terjadi ketika konjungsi Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi 0,3 persen. Sedangkan Mars bermagnitudo 1,68. Sudut pisah Bulan-Mars sebesar 6,66 derajat hingga 6,61 derajat.

Apabila ada kebutuhan untuk membuat company profile, logo maupun desain website dapat menghubungi Arahmata, dapat di cek portofolio Arahmata digital Agency secara online di https://www.arahmata.co.id/our-works/ atau apabila berminat menjadi patner maupun sedang mencari vendor bisa langsung e-mail ke admin@arahmata.co.id dan bisa juga kontak kami melalui whatsapp +62 812-8012-9656.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top