Ini Dia Cara Exxonmobil Membaca Kenormalan Baru

Jakarta – Sebagian sektor usaha terdampak virus corona, begitu juga sektor minyak dan gas bumi. Hantaman ganda terjadi di sektor hulu migas, selain Covid-19, anjloknya harga minyak dunia membuat para produsen ambil sikap. Terlepas dari dinamika harga minyak dunia, perusahaan migas melakukan antisipasi guna menjaga performa bisnis di tengah pandemi.

Setidaknya ada beberapa perusahaan top global yang ikut mengeksploitasi ladang migas di Tanah Air. Sebut saja seperti Exxonmobil. ExxonMobil melakukan Efisiensi dan Fokus Memproduksi Migas Berbiaya Rendah Exxonmobil, perusahaan migas asal Texas, Amerika Serikat ini, belakangan menjadi buah bibir dalam bisnis hulu migas Indonesia.

Keberhasilannya menemukan cadangan migas di Lapangan Banyu Urip, menjadikan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini di urutan teratas produksi minyak Indonesia sebesar 219.641 barel per hari (bph) per 2019. Sebelumnya, Chevron Pacific Indonesia, sebagai pengelola blok Rokan menjadi KKKS yang memproduksi minyak terbesar di Tanah Air. Saat ini, Chevron memproduksi minyak sebesar 190.003 bph.

Dikutip dari laman Exxonmobil, Chairman and Chief Executive Officer Exxonmobil Darren Woods menyebut kondisi saat ini merupakan situasi yang menantang bagi pihaknya. Dari sisi protokol kesehatan, pihaknya telah menerapkan langkah-langkah penting untuk melindungi kesehatan dan keselamatan para tenaga kerja.

“Kami juga meminta mereka yang dapat bekerja dari rumah untuk melakukannya dalam mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi interaksi sosial pada saat kritis ini” katanya. Terkait kondisi pasar yang disebabkan Covid-19 dan penurunan harga komoditas, Exxonmobil mengurangi belanja modal jangka pendek dan pengurangan biaya operasional yang signifikan.

Woods mengaku tetap fokus untuk menjadi operator migas dengan berbiaya rendah serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Melihat bisnis hulu migas di Indonesia, saat ini, Exxonmobil Cepu Limited (EMCL) merupakan KKKS dengan biaya produksi migas paling rendah Indonesia atau berada di bawah US$10 per barel.

Berdasarkan data SKK Migas, EMCL berhasil mencatat produksi minyak sebesar 200.118 bph per Maret 2020 atau mencatat 100,1 persen target produksi dalam APBN 2020. “Energi telah disebut mesin ekonomi dan akan sangat penting untuk pemulihan ekonomi. Kami menjaga operasi agar berjalan dengan aman, mengelola risiko dengan serius, dan memberikan produk yang diandalkan orang” tambah Woods.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top