Jelajah Kopi Indonesia Dari Kampung Pelag Garut

Kopi Indonesia menjadi salah satu andalan komoditas eksport ke berbagai belahan dunia termasuk ke Brasil dan Italia yang menjadikan masyarakat di kedua negara tersebut mempunyai budaya minum kopi sebelum menjalankan aktifitas dan disaat menikmati waktu luang nya.

Budidaya kopi di Indonesia sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda , di era itu Belanda banyak menanam kopi di Indonesia termasuk salah satu peninggalan pohon kopi yang tersisa di lereng gunung Papandayan Garut ditemukan tiga pohon kopi yang mempunyai kualitas rasa yang istimewa.

Sejarah singkat kopi di Indonesia

Bibit kopi tersebut dibawa oleh Gubernur Van Hoorn dari Hindia Belanda setiba di Indonesia didistribusikan blke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan serta wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Berdasarkan literatur arsip sejarah kopi Indonesia yang dibawa oleh Gubernur dari Hindia Belanda yang sedang berdagang pada jaman VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada awal abad ke 17, selanjutnya biji kopi yang ditanam baru mulai menghasilkan setelah umur 7 – 9 tahun, kemudian dibudidayakan dan berhasil panen raya sehingga hasil produksi kopi di Indonesia melimpah dan mampu mendominasi pasar dunia.


Bahkan pada saat itu jumlah ekspor kopi dari Jawa ke Eropa telah melebihi jumlah ekspor kopi dari Mocha (Yaman).
Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (coffea arabica), meskipun dalam perkembangan kopi Indonesia mempunyai dua varietas yaitu kopi robusta (coffea canephora) dan kopi arabika (coffea arabica )

Selanjutnya, kedua varietas kopi tersebut dikembangkan dan diberi nama sesuai dengan lokasi penanamannya. Salah satunya adalah Kopi Priangan yang tumbuh pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl kaki gunung Papandayan tepatnya di kampung Pelag kabupaten Garut.
varietas Pelagio. Diberi nama seperti itu karena ditanam di Kampung Pelag.

Budidaya Kopi Arabica di Kampung Pelag

Varietas kopi dari kampung Pelag , desa Sukarilah, kecamatan Sukaresmi – kabupaten Garut, Jawa Barat didominasi jenis Arabica ( arabica caffea ) yang merupakan varietas dari Priangan ternyata sangat diminati para pencinta kopi lokal dan luar daerah. Sejak lama komoditas kopi ini menjadi andalan warga setempat sehingga mendatangkan rezeki dan meningkatkan taraf hidup warga di kampung Pelag Garut.

Sebelum tahun 2009 kopi dari kampung Pelag hasil panen hanya dikenal didaerah tersebut dan warga masih menjualnya dam bentuk green bean karena mengalami kesulitan untuk mengolah hasil panenannya, dalam kondisi seperti itulah akhirnya menggugah PT Indonesia Power untuk ikut membantu memberikan pembinaan dan pengembangan para petani kopi di Kampung Pelag kabupaten Garut.

Diawali pada tahun 2011, anak perusahaan PLN yang bergerak dalam bisnis pembangkitan yang ada di Kamojang Garut, yang pada saat itu bernama Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang PT Indonesia Power melakukan pendekatan melalui program CSR (Community Social and Responsibility) melakukan pembinaan kepada sekitar 80 petani kopi yang bermukim di kampung Pelag, meski pada saat itu banyak kendala yang dihadapi namun tidak menyurutkan semangat pegawai Indonesia Power dalam memberikan pembinaan dan batuannya.

Melihat semangat para petani yang dibina maka upaya untuk memberikan edukasi meski harus mendatangkan guru yang kompeten dalam mengelola dan membudidayakan kopi sekaligus mengelola biji kopi hingga siap dikonsumsi dan dikemas untuk dikirim ke luar kota Garut.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Indonesia Power memberikan segala bentuk bantuan mulai dari menyemai biji kopi, menanam bibit kopi, merawat termasuk memupuk pohon kopi agar bisa berbuah, memetik, .memilih biji kopi untuk membedakan mana kopi varketas tinggi dengan kopi tidak layak di kemas.

Bahkan program CSR PT Indonesia Power juga memberikan bantuan mesin pengolah biji kopi mulai mesin pembersih, pengering dan mesin produksi kopi roaster termasuk memberikan pembekalan pengetahuan praktis kepada warga yang dipercaya sebaga local hero agar bisa mengoperasikan dan merawat mesin-mesin tersebut dengan baik agar berdaya guna secara maksimal. Tidak heran setelah pembinaan oleh PT Indonesia Power sudah hampir 10 tahun para petani sudah bisa menjual kopi dalam kemasan roaster dengan harga mencapai Rp 600.000/ kg.

“Animo masyarakat pun mulai bergairah untuk merawat dan menanam kembali kopi Pelagio. Apalagi, komoditas ini bisa meningkatkan taraf hidup warga kamoung Pelag,” ujar Head of Corporate Communication Indonesia Power, Rahmi Sukma, di sela-sela kunjungan ke Pelagio Café, Garut, pada hari Jum’at (13/3).

Rahmi menjelaskqn kopi jenis  Pelagio  merupakan salah satu jenis kopi tertua di Indonesia.  Kopi Arabica Java Preanger ini merupakan jenis kopi yang langka karena hanya terdapat di Kampung Pelag yang terletak di ketinggian 1.300 mdpl.

Pembinaan oleh PT Indonesia Power kepada warga kampung Pelag Garut saat ini sudah memanfaatkan lahan milik masyarakat khususnya kelompok Sinergi Jaya seluas 35,7 hektar dan lahan milik Perhutani seluas 42,60 hektar. Saat ini, telah menghasilkan 1,2 ton kopi untuk kisaran total hasil per panen.

“Tapi jangan heran dengan harganya. karena rasanya yang kas ditambah mungkin ada nilai sejarah di dalamnya, Kopi varietas Kampung Pelag dengan nama keren Pelaggio ini harganya selangit, bisa menembus Rp 600 ribu per kg,” ungkapnya.

Kopi jenis arabica ini belum memiliki varietas khusus dan sedang diteliti oleh balai peneliti tanaman industri dan penyegar. Kopi dengan kategori Jagur ini dapat tumbuh dengan baik di ketinggian diatas 700 mdpl. Kopi Arabica Java Preanger memiliki keunggulan yaitu tanpa ada reboisasi dapat tumbuh dan produksi selama 100 tahun.

Bagi pecinta dan penikmat kopi tentunya akan semakin lengkap apabila telah menyedu dan merasakan nikmatnya kopi asli dari kampung Pelag , dan yakinlah tidak lama lagi beberapa cafe akan menyajikan meni kopi pelagio sebagai gaya hidup kekinian.

3 komentar untuk “Jelajah Kopi Indonesia Dari Kampung Pelag Garut”

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top